Pemerintah Provinsi Sumatera Barat memperingati 5 Hari Bersejarah di Bulan Desember 2016

Jumat, 16 Desember 2016 09:01 WIB

Kantor Gubernur Sumatera Barat, Sekretariat Korps Pegawai Republik Indonesia Propinsi Sumatra Barat (KORPRI SUMBAR) -


Bertempat di lapangan Upacara Kantor GubernurSumatera Barat pada Hari Kamis 15 Desember 2016, Gubernur Irwan Prayitno bertindak selaku Inspektur Upacara dalam rangka peringatan Hari Ibu ke 88, Hari Kesetiakwanan Sosial Nasional (HKSN), Hari Hak Asasi Manusia (HAM) se-dunia, Hari Nusantara dan Peringatan Hari Aids se dunia. Acara peringatan 5 Hari Besar Nasional dan Internasional ini juga dihadiri oleh Wakil Gubernur, Kapolda, Ka Lantamal, Danlanud,Kejati, TNI AD, Kemenag, Forkopimda, Bupati dan Walikota beserta Sekda Kab/Kotaserta Ka SKPD dan Pejabat Eselon III dan IV dan utusan masing-masing SKPD dan Instansi Vertikal di Lingkungan Pemerintah Sumatera Barat

Dalam sambutan yang cukup panjang untuk masing-masing peringatan Hari Besar Nasional dan Internasional tersebut,Gubernur Irwan Prayitno merunut pidatonya mulai dari peringatan Hari Ibu yang dalam Peringatan hari Ibu ini dijelaskan bahwa hari ibu ini lahir dari pergerakan bangsa Indonesia, karena pergerakan kebangsaan ke­mer­dekaan peran perem­puan di Indonesia sungguh menge­sankan. Buktinya ter­lihat dalam kongres perem­puan perta­ma di Yogyakarta yang dilaksanakan pada 22 Desember 1928 untuk men­dorong kemerdekaan Indo­nesia.

“Hari ibu dapat me­n­jadi pengingat bagi rakyat Indonesia terutama generasi muda akan arti dan makna hari Ibu sebagai sebuah momentum kebangkitan ba­ng­sa, serta pengalangan rasa persatuan dan kesatuan se­bagai pengerak per­juangan kaum perempuan yang tidak dapat dipisahkan dari se­ja­rah bangsa,”

Selain itu, peringatan hari keseti­akawanan harus dimak­nai dengan aksi nyata tentang kebersamaan dalam ke­pe­dulian untuk me­wujud­kan kese­jahteraan rakyat. “Jadi ini jangan hanya di­jadi­kan se­bagai sebuah ke­gia­tan yang seremonial se­mata, namun mesti be­rem­pati terhadap kesulitan ora­ng lain secara bersama-sama secara sukarela yang dapat mendayagunakan nilai-nilai kesetiakawanan tersebut,” ulasnya.

Ia mengatakan, tan­tang­an dan permasalahan yang dihadapi saat ini sungguh berat, di antara permasala­han kemiskinan,keterlantaran, disabilitas, bencana alam, sosial, narkoba dan masalah sosial lainnya.

Untuk peringatan hari Hak Asasi Manusia (HAM) ia berharap, dija­dikan se­buah upaya untuk kese­riusan dalam upaya untuk per­lin­dung­an dan penegakan HAM di Indonesia, karena penga­turan tentang HAM di In­do­nesia telah diatur dalam ber­bagai peraturan. “Untuk itu hari HAM sedunia ke 68 ini mengangkat tema me­ning­katkan penghormatan, pemenuhan, perlindungan, pene­gakan dan kemajuan hak asasi manusia,” ujarnya.

Hari ini juga mem­pe­ri­nga­ti hari nusantara telah ditetapkan berdasarkan De­k­­larasi Djoeanda 13 De­sem­ber 1957 yang merupakan tonggak bagi penyatuan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), jadi peringatan hari nu­santara untuk mengingatkan tentang jati diri bangsa In­do­nesia sebagai negara ba­hari yang hidup di negara kepulauan bercirikan nusan­tara. “Untuk itu perlu me­ning­katkan pemahaman wa­wa­san kelautan mas­yarakat, sebagaimana visi pe­me­rin­tah menjadikan Indonesia sebagai poros maritim. Ka­rena, hampir 75 persen wila­yah Indonesia merupakan laut,” ujarnya.

Serta yang terakhir, pe­ringa­tan hari Aids se-dunia perlunya dukungan pe­me­rintah bersama masyarakat untuk mengutamakan upaya promotif dan preventif da­lam pembanguna kese­hatan, ter­masuk dalam pencegahan dan pengendalian HIV/AI­DS. karena pengendalian penyait menular mau­pun tidak menular merupakan program prioritas dalam pem­bangunan kese­hatan. “Jadi,pencegahan dan pe­n­gen­dalian HIV/AIDs perlu mendapatkan perhatian kh­u­­sus dari pemerintah, karena sejak tahun 2005 sampai dengan Desember 2015 telah dilaporkan 191.073 orang terinfeksi HIV di Indonesia, Jawa Timur meru­pakan salah satu Provinsi dengan pe­nemuan kasus HIV yang tinggi, bersama dengan Pro­vinsi DKI Jakarta, Papua, Jawa Barat dan Jawa Tengah,” tambahnya.

Dari data faktor resiko penularan HIV terbanyak melalui hubungan seks yang berisiko pada hetero­seksual yaitu 66 persen, peng­gunaan jarum suntik tidak steril pada penasun 11 persen, lelaki seks dengan lelaki 3 persen, serta penularan dari ibu ke anak 3 persen. “Jadi data yang tersebut men­dasari dalam strategi pen­ce­gahan dan pe­nge­ndalian HIV/AIDS, yakni pendekatan yang berfokus dalam keluarga dan ma­sya­rakat,”

Oleh karena itu, agar tercapai hasil yang sesuai dengan harapan maka dilak­sanakan beberapa tindakan aksi antara lain,pencegahan dan pengendalian HIV/AI­DS harus dilakukan secara bersama baik pemerintah maupun masyarakat yang bertujuan untuk me­ning­katkan kemampuan masya­rakat dalam berprilaku hi­dup sehat, mengatasi ma­sa­lah kesehtan secara mandiri,berperan aktif dalam pem­bangunan kesehatan serta menjadi pengerak dalam pembangunan wawasan ke­se­hatan. “Semoga seluruh rangkaian peringatan ber­se­jarah ini menjadi upaya kita untuk mem­bangkitkan se­mangat kebersamaan dan saling melindungi antar sesa­ma,” pungkasnya.



Berita ini dicetak dari: Sekretariat Korps Pegawai Republik Indonesia Propinsi Sumatra Barat (KORPRI SUMBAR)
http://korpri.sumbarprov.go.id/berita/49/pemerintah-provinsi-sumatera-barat-memperingati-5-.html